Alien: Covenant [REKAMAN VIDEO]

resensi film, Film horror, film fiksi sains

Deskripsi

DATA BIBLIOGRAFIS

            Judul Film                    : Alien: covenant

            Pengarang                   : Ridley Scott

            Format                          : Bluray

            Penerbitan                  : Amerika Serikat : 20th Century Fox, 2017.

            Deskripsi Fisik           : 1 Bluray : digital, stereo : 4 3/4 inci +

            No. Panggil                  : 791.436 164 ALI

            Subjek                          : Film horror, film fiksi sains


AS  | Horror, fiksi ilmiah.

122 menit.

Sutradara: Ridley Scott | Produser: Ridley Scott, David Giler, Walter Hill Pemeran: Michael Fassbender, Katherine Waterston, Billy Crudup, Danny McBride, Demián Bichir, Carmen Ejogo | Produksi: Scott Free Productions, Brandywine Productions, TSG Entertainment, 20th Century Fox.

*Bisa diakses di layanan Audio Visual Lantai 8, Perpusnas Medan Merdeka Selatan.

 

RESENSI

Covenant merupakan sekuel dari film sebelumnya, Prometheus. Dua judul yang saya sebut pertama merupakan franchise film Alien yang diciptakan pertama kali oleh Ridley Scott. Setelah 38 tahun lalu franchise ini diluncurkan, Scott kembali duduk di bangku sutradara untuk menghadirkan makhluk luar angkasa alias xenomorph yang menjadi obsesi sepanjang karirnya. Covenant dan Prometheus adalah pertanyaan tentang bagaimana asal mula makhluk xenomorph tercipta dan siapa pencipta dibalik makhluk parasit mengerikan tersebut.

Dalam prolog Alien: Covenant, digambarkan apa yang terjadi dengan Dr. Elizabeth Shaw dan robot humanoid bernama David setelah peristiwa malapetaka Prometheus. Terlihat adegan Dr. Shaw tengah menyambung kepala David kembali ke tubuhnya dan mereka menggunakan pesawat milik Engineer untuk mencari asal-usul Engineer dan manusia. Ternyata mereka berhasil menemukan tempat yang Dr. Shaw sebut sebagai Paradise. Kemunculan David menjadi benang merah antara Prometheus dan Covenant. Sosok David di film ini masih diperankan oleh aktor Michael Fassbender.

Covenant mengambil setting waktu diantara tahun 2104, sekitar 10 tahun setelah Prometheus. Teror Xenomorph belum berakhir, justru evolusi makhluk tersebut kian eksponensial. Mahluk yang diduga adalah eksperimen senjata biologis ini berkembang biak dengan menggunakan manusia sebagai inangnya yang kemudian manusia tersebut akan mati tak berdaya.

Film ini adalah film penting yang akan menghubungkan Prometheus dan Alien sebelumnya. Ridley Scott merencanakan film ini sebagai bagian dari trilogi film sekuel Prometheus, dan kemungkinan dari trilogi yang akan dibuat ini nantinya penonton bisa mendapatkan penjelasan untuk semua hal yang terjadi di semesta Alien.

Berawal dari kapal luar angkasa Covenant yang melakukan perjalanan antar galaksi menuju sebuah planet terpencil yang sudah mereka teliti sebelumnya, Origae-6. Di tengah perjalanan, kapal mengalami beberapa kerusakan efek ledakan bintang, hingga para awak harus dibangunkan paksa dari tidur panjangnya. Beberapa awak kapal selamat. Namun, sang kapten justru terbakar dalam kapsul tidurnya karena para awak kesulitan membuka secara manual kapsul tersebut. Karena hal ini, pelaksana tugas kapten kapal diserahkan kepada Chris (Billy Crudup). Selama perjalanan, para awak pesawat dilayani oleh robot humanoid bernama Walter (Michael Fassbender), yang memiliki kemiripan fisik dengan David, namun merupakan versi terbaru. Lebih pintar dan penurut.

Ketika para awak memperbaiki kapal, di tengah perjalanan mereka menemukan sinyal aneh mirip musik manusia di bumi. Saat dicari sumber suara, ternyata terletak di salah satu planet terdekat. Sang kapten pun memutuskan untuk mampir. Perdebatan pun terjadi. Sang Kapten berpikir telah menemukan surga yang belum dipetakan, namun terkadang harapan tak seindah bayangan.

Ridley Scott tentu saja terampil membuat penonton tegang dalam menyaksikan petualangan David dkk. Dengan scoring yang mencekam, penonton akan dibuat bertanya-tanya akan kemana nasib kru Covenant dibawa.

Satu yang saya cermati dari peran penting David di Prometheus dan Coventant adalah bagaimana sebuah robot tidak hanya menjadi asisten penting bagi manusia di masa depan. Semakin canggih robot dibuat, maka pertanyaan yang akan muncul berikutnya adalah apakah perlu membuat robot yang mempunyai kehendak sendiri atau free will? Robot yang tidak hanya mematuhi perintah dari sang pencipta (programer) namun bisa berpikir sendiri dengan kesadaran dan emosi layaknya manusia? Di sini David mengambil poin penting dari pertanyaan eksistensial tersebut. Sebuah gambaran pisau bermata dua. Bisa menjadi harapan terang benderang atau justru menjadi tragedi gelap bagi spesies manusia.

 

 

Penulis & Desainer:

Umbara Purwacaraka – Pustakawan Ahli Muda, Perpusnas RI

 

Informasi Tambahan

Pengarang Ridley Scott
Penerbit 20th Century Fox
Tahun Terbit 2017
Edisi -
Kota Los Angeles
Lembar Kerja
Kategori Literatur Sekunder

oleh Umbara Purwacaraka, S.Ikom. ()