2020 [REKAMAN SUARA]

Resensi, musik, album musik, piringan hitam, vinyl, musik pop

Deskripsi

DATA BIBLIOGRAFIS

Judul Album          : 2020

Pengarang              : White Shoes & The Couples Company

Format                     : Piringan hitam (vinyl)

Penerbitan             : Jakarta, Anukara Records, 2021

Deskripsi Fisik      : piringan hitam : analog, 33 1/3 rpm, stereo ; 12 inci

No Panggil              : 781.65 WHI d

Dapat diakses di Layanan Audio Visual lantai 8, Gedung Layanan Perpusnas, Medan Merdeka Selatan No.11

RESENSI

Kreatifitas kolektif asal IKJ ini seakan tak pernah surut. Album penuh kedua mereka, Vakansi (2010) terbilang sukses secara kualitas dan popularitas. Biasanya, hal ini menjadi beban berat untuk dipikul menuju album berikutnya. Namun pada tahun 2021,  album penuh ketiga mereka lahir dengan konsep dan formulasi yang berbeda. Sebuah album pop sinematik nan eksploratif. Ini menjadi pencapaian estetika  baru dari White Shoes and the Couples Company (WSTCC).

Pertama, saya akan membahas bagaimana konsep album 2020 yang dirilis dalam format piringan hitam. WSTCC terkenal sebagai salah satu band yang masih menjunjung tinggi rilisan fisik sebagai pencapaian paripurna bagi musisi. Mereka terbilang jarang merilis album dalam format digital. Begitu pun album 2020, hingga saat tulisan ini diwartakan, tidak terdeteksi bahwa album pop sinematik ini berada dalam kanal-kanal digital masa kini. Sebagai kolektif seniman yang paham betul arti sebuah medium, mereka memperlakukan rilisan fisik sebagai senjata andalan secara estetika maupun bisnis.

Dalam rilisan piringan hitam ini, contohnya. Tidak hanya menyertakan bonus poster A3 dan foto polaroid ukuran kecil, tetapi juga berupa 12 lembar artwork berbahan brief card paper 160 gsm yang merepresentasikan 11 lagu dalam album 2020. Di Satu sisi merupakan karya fotografi yang ciamik sementara di sisi lainnya berupa lirik dan sinopsis cerita film imajiner hasil karya berbagai penulis.

Di liner notes dijelaskan bahwa WSTCC mengonsep 11 lagu dalam album ini sebagai soundtrack 11 film imajiner yang tidak tidak pernah dibuat di dunia ini. Mereka mengajak beragam penulis berkolaborasi untuk membuat 11 sinopsip cerita film fiktif tersebut. Dari sinopsis-sinopsis itu tersematlah lagu karya WSTCC sebagai soundtrack yang mengiringi. Musik yang mereka karang adalah bentuk respons yang saling berkaitan dengan cerita film. Hasilnya, kita akan mendengarkan sebuah paket karya yang sangat unik, eksploratif, dan terkadang figuratif. Menikmati musik sembari membaca cerita di balik lagu menjadi sebuah pengalaman yang asyik dan memberi nuansa tertentu tentang cerita kehidupan sehari-hari yang dramatis khususnya kisah-kisah manusia urban.

Keseluruhan imaji dari berbagai cerita tersebut secara tidak tidak langsung merupakan referensi yang didapat dari berbagai memori dan perasaan yang terangkum dalam tema film-film Indonesia terdahulu yang juga merupakan inspirasi terbesar WSTCC dalam membuat album ini. Maka, silakan menikmati petualangan sinematik nan unik di album pop dengan sentuhan retro a la WSTCC.

 

Highlights:

·    Nomor 'Irama Cita' menghentak dengan bassline yang funky bersaut dengan bunyi elektronik jadul nan robotik. String section berkejaran, terkadang terdengar menumpuk tak sekadar harmonis. Pesta bebunyian yang seru tersebut terasa sangat pop dengan diksi Indonesia lama ala WSTCC. 

·    Sedangkan tembang 'Hidup Hanya Sekali' masuk dalam pukulan bongo yang rancak dan terasa sangat nusantara. Saut-sautan backing vocal terdengar asyik. Secara keseluruhan terasa klasik namun modern. Lirik pun menarik karena mengadaptasi dari berbagai puisi dari Chairil Anwar.

·    Pada 'Portrait of S.A.S' dan 'Variasi Barongko' terdengar bagaimana eksplorasi dan eksperimentasi dari grup ini. Yang pertama lebih seperti scoring film nan menyayat dan dramatis. Yang kedua bereksplorasi dengan bebunyian serupa kolintang yang rancak dan psikedelia.

·     'Hey Waktu! Kau Kalah!' diracik dengan nuansa funk yang kental bikin kepala bergoyang apalagi ketika kendang Sunda masuk untuk memacu tempo. Makin asyik dan kebyar.

·    'Halaman Ekstra' menutup album dengan aransemen khas WSTCC. Pop manis dengan bebunyian retro (gitar maupun keyboard) dan ketukan drum disco serta sahut-sahutan backing vocal yang aduhai. Tak lupa pilihan diksi jadul khas mereka sebagai signature.

 

Penulis Resensi & Desainer: Umbara Purwacaraka – Pustakawan Ahli Muda, Perpusnas RI

 

 

Informasi Tambahan

Pengarang White Shoes & The Couples Company
Penerbit Anukara Records
Tahun Terbit 2021
Edisi -
Kota Jakarta
Lembar Kerja
Kategori Literatur Sekunder

oleh Umbara Purwacaraka, S.Ikom. ()